Ada yang berbeda dari udara laut di pesisir selatan Jember belakangan ini. Bukan sekadar aroma garam yang tajam, tapi ada semburat optimisme yang terpancar dari wajah para pedagang asongan dan pemilik warung di sepanjang jalur Pantai Watu Ulo hingga Tanjung Papuma.

Dahulu, keluhan soal mahalnya biaya masuk seringkali terdengar. Namun kini, hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 12.500, pengunjung sudah bisa mengantongi akses dua dunia—eksotisme batu karang Watu Ulo sekaligus pasir putih Papuma yang ikonik. Kebijakan ini terbukti bukan sekadar pemanis di atas kertas, melainkan magnet kuat yang menarik puluhan ribu pasang mata.

Berdasarkan catatan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Jember, lonjakan kunjungan pada libur Lebaran Maret 2026 ini benar-benar di luar ekspektasi. Bayangkan saja, jika pada periode yang sama tahun 2025 lalu hanya ada sekitar 14.357 orang yang datang, tahun ini angkanya melesat tajam lebih dari empat kali lipat, menyentuh 57.806 wisatawan.

Grafik kunjungan harian pun menceritakan antusiasme yang luar biasa. Awal Momentum dimulai dengan 1.079 orang pada 21 Maret, angka ini langsung meledak menjadi 3.742 di hari berikutnya.

Angka kunjungan konsisten bermain di level 6.000-an orang setiap harinya. Namun, pada 28 Maret menjadi saksi kepadatan tertinggi dengan 9.148 pelancong yang memadati bibir pantai.

Bagi Pemerintah Kabupaten Jember, angka-angka ini bukan sekadar statistik prestasi. Kepala Disporabudpar Jember, Bobby Arie Sandy, menegaskan bahwa strategi ini adalah senjata untuk melawan kemiskinan di wilayah pesisir.

“Kami ingin arus wisatawan ini menjadi bahan bakar bagi mesin ekonomi warga lokal. UMKM tumbuh, dan masyarakat sekitar bukan lagi penonton, melainkan pemain utama dalam mengelola potensi tanah kelahirannya,” ujar Bobby dengan nada optimis.

Kenaikan ini bahkan melampaui catatan kunjungan bulan Januari 2026 yang sempat menyentuh angka 50 ribuan. Hal ini membuktikan satu hal: ketika akses wisata dibuat terjangkau dan dikelola dengan skema yang tepat, masyarakat akan datang berbondong-bondong.

Kini, Watu Ulo dan Papuma bukan lagi sekadar destinasi liburan yang mahal. Ia telah menjelma menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang mendengar keluhan warga dengan semangat pemberdayaan ekonomi rakyat.

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *