Lonjakan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jember yang menyentuh angka 6,35% pada Kuartal I (Q1) bukan sekadar kebetulan. Capaian impresif yang menempatkan Jember di posisi puncak wilayah Sekar Kijang (Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang) ini rupanya memiliki landasan akademis yang kuat. Akurasi data tersebut bahkan melampaui performa ekonomi Jawa Timur (5,96%) dan skala Nasional (5,61%).
Menariknya, tren positif indikator makro ini sejalan dengan temuan ilmiah dari Bupati Jember, Gus Muhammad Fawait. Ia baru saja mempertahankan disertasinya di Program Doktor Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga. Karya ilmiahnya yang bertajuk “Analisis Peran Belanja Pemerintah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Jawa Timur” seakan menjadi panduan praktis atas melesatnya perekonomian di Jember.
Dalam kajian akademisnya, Gus Fawait mengupas pentingnya reposisi fungsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Instrumen fiskal ini dinilai harus keluar dari pola lama yang konsumtif untuk belanja rutin, dan beralih fokus pada sektor fiskal strategis dengan efek domino (multiplier effect) yang tinggi.
Korelasi nyata antara teori makro tersebut dengan realita pembangunan di Jember tercermin melalui dua poin penting. Pertama, pengelolaan fiskal tepat sasaran. Akselerasi serapan anggaran yang diarahkan langsung pada stimulus UMKM, sektor agraria/pangan, serta pembenahan infrastruktur di wilayah pinggiran menjadi motor utama yang mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jember hingga ke angka 6,35%.
Kedua, pangkas sumbatan birokrasi. Riset Gus Fawait menegaskan bahwa efisiensi birokrasi di lapangan secara otomatis mempercepat sirkulasi uang di tingkat tapak. Dampak langsungnya adalah peningkatan pendapatan riil sekaligus penguatan daya beli masyarakat.
Mengambil lokus penelitian di Jawa Timur, Gus Fawait menyimpulkan bahwa daerah yang mampu mengoptimalkan efisiensi belanja publik sejak awal tahun anggaran akan bertransformasi menjadi lokomotif ekonomi bagi wilayah penyangga di sekitarnya.
Kini, dengan pertumbuhan ekonomi di Jember berada di atas rata – rata provinsi keunggulan 0,39 poin dan nasional 0,74 poin. Jember mengukuhkan posisinya sebagai wilayah paling kompetitif di koridor Sekar Kijang. Kabupaten Jember
6,35%, Kabupaten Banyuwangi 6,14%, Kabupaten Lumajang 5,89%, Kabupaten Situbondo 5,50%, dan Kabupaten Bondowoso
5,42%.
Bagi Gus Fawait, gelar Doktor Ilmu Ekonomi dari Universitas Airlangga ini mengemban tanggung jawab moral yang besar bagi masyarakat. Integrasi antara riset akademis dan kebijakan berbasis kebutuhan riil rakyat menjadi komitmen jangka panjang. Tujuannya jelas, memastikan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini berbanding lurus dengan menurunkannya angka kemiskinan, serta membuka lapangan kerja seluas-luasnya di Kabupaten Jember.
