Politeknik Negeri Jember (Polije) menerapkan konsep ramah lingkungan dalam pelaksanaan ibadah kurban tahun ini. Melalui program “Kurban Hijau”, kampus berupaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai pada proses distribusi daging kurban.

Komitmen tersebut diwujudkan dengan mengganti kantong plastik konvensional menggunakan besek bambu sebagai wadah pembungkus daging. Langkah ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap program pengelolaan sampah yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Jember.

Direktur Polije, Saiful Anwar, mengatakan bahwa pelaksanaan kurban tidak hanya menjadi wujud ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana memperkuat kepedulian sosial kepada masyarakat.

“Pelaksanaan kurban merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus ibadah sosial bagi masyarakat,” ujarnya.

Pada pelaksanaan kurban tahun ini, keluarga besar Polije berhasil menghimpun dua ekor sapi dan 14 ekor kambing dari para pekurban. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa serta didukung sejumlah mitra, termasuk Bank Tabungan Negara (BTN) dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Menurut Saiful, penggunaan besek bambu dipilih sebagai alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan plastik sekali pakai. Kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengurangi timbulan sampah dan mendorong penggunaan bahan yang mudah terurai secara alami.

“Politeknik Negeri Jember mendukung kebijakan Bupati Jember terkait pengelolaan sampah dengan menerapkan konsep ramah lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Al-Istiqomah Polije, Surateno, memastikan seluruh proses pengemasan dan distribusi daging kurban dilakukan secara tertib dengan mengedepankan prinsip ramah lingkungan. Selain mengurangi penggunaan plastik, langkah ini juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya beralih ke kemasan yang lebih berkelanjutan.

“Kami menggunakan besek sebagai wadah daging kurban untuk mengurangi penggunaan plastik,” ujarnya.

Melalui pembagian ratusan paket daging kurban yang dikemas menggunakan besek bambu, Polije berharap dapat menginspirasi berbagai institusi lain untuk menerapkan konsep serupa dalam kegiatan keagamaan maupun sosial.

“Kami berharap ibadah yang dilakukan diterima Allah SWT sebagai bentuk ketaatan dan keikhlasan,” pungkasnya.

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *