Hanya gara-gara urusan tombol follow di media sosial, hari-hari seorang murid di SDN Selodakon 04, Kecamatan Tanggul, Jember berubah jadi mimpi buruk. Persoalan sepele di dunia maya itu mendadak memicu emosi pelaku hingga berujung pada aksi kekerasan fisik dan perundungan yang menyisakan trauma mendalam bagi korban.
Mendengar kabar memprihatinkan ini, Dinas Sosial PPPA Kabupaten Jember melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) langsung pasang badan. Tim UPTD PPA bergerak cepat mendatangi lokasi, berkoordinasi dengan pihak sekolah, serta mengawal korban dan keluarganya melapor secara resmi ke Polres Jember pada Senin (10/8).
Tak berhenti di kantor polisi, di hari yang sama petugas UPTD PPA langsung membawa korban ke RSUD Dr. Soebandi. Di sana, korban menjalani pemeriksaan medis komprehensif, mulai dari visum et repertum untuk bukti kekerasan fisik hingga visum psikiatri guna mengukur tingkat trauma mentalnya.
Kepala UPTD PPA Dinsos PPPA Jember, Hery Apriliyanto, menegaskan bahwa fokus utama petugas saat ini adalah menyembuhkan luka batin sang anak.
“Fokus utama kami tak cuma bertumpu pada hukum, tapi juga pemulihan fisik dan psikologis anak melalui pendampingan medis serta psikiatri di RSUD Dr. Soebandi,” jelas Hery.
Hery juga mengingatkan bahwa peristiwa ini harus jadi alarm keras buat orang tua dan guru dalam mengawasi aktivitas anak di media sosial.
“Aksi perundungan apalagi yang dipicu oleh media social sama sekali tidak boleh ditoleransi,” tegasnya.
Saat ini, kasus perundungan tersebut sudah ditangani oleh penyidik Polres Jember. Sementara itu, Dinsos PPPA Jember berjanji akan terus memberikan pendampingan psikologis sampai kondisi emosional korban benar-benar pulih dan siap kembali bersekolah dengan aman.

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *