Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jember menilai skema telemedicine dalam program Homecare sangat efektif memangkas jarak medis dan membantu penentuan keputusan awal pemeriksaan pasien. Kendati demikian, IDI mengingatkan Pemkab Jember untuk memerhatikan batas beban kerja serta kesejahteraan tenaga kesehatan (nakes) di lapangan.
Ketua IDI Cabang Jember, dr. M. Ali Shodikin, M.Kes., Sp.A., menyampaikan bahwa inovasi kunjungan rumah ini bermanfaat besar bagi warga dengan keterbatasan mobilitas untuk berobat. Namun, regulasi terkait volume kerja ASN medis harus diatur secara presisi.
“Layanan ini dirasakan langsung manfaatnya oleh warga. Namun konsekuensinya ada peningkatan volume kerja nakes. Regulasi jam kerja dan alokasi insentif yang layak perlu disiapkan agar profesionalisme petugas tetap terjaga,” ujar dr. Ali.
Dia menambahkan, keberhasilan operasional Homecare sangat bergantung pada kesiapan alokasi anggaran daerah. Dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember dalam menyediakan sarana-prasarana, ketersediaan obat-obatan, peralatan medis portable.
Mengenai penggunaan teknologi telemedicine, dr. Ali menjelaskan bahwa konsultasi jarak jauh dokter spesialis sangat membantu nakes lapangan dalam mengambil tatalaksana awal. “Untuk kasus klinis yang berat atau kompleks, rujukan dan tatalaksana komprehensif di rumah sakit tetap tidak terelakkan,” jelasnya.
IDI Jember mengimbau agar program Homecare difokuskan khusus kepada kelompok rentan yang tidak memungkinkan hadir secara fisik, sementara masyarakat yang masih memiliki akses mobilitas disarankan tetap memanfaatkan layanan langsung di faskes atau puskesmas terdekat.
