Siapa bilang sampah hanya berakhir di tempat pembuangan? Di SMP Negeri 1 Pakusari, sampah organik justru disulap menjadi pupuk kompos yang bernilai ekonomi. Lewat program “Komposku”, para siswa tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga diajak melihat bahwa sampah bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Program ini menjadi bukti bahwa gerakan mengelola sampah bisa dimulai dari lingkungan sekolah. Setiap hari, siswa diajarkan memilah sampah organik, mengolahnya menjadi kompos, hingga memahami proses pemasarannya. Hasil penjualannya kemudian diputar kembali untuk mengembangkan program pengelolaan sampah di sekolah.

Inovasi tersebut mendapat apresiasi langsung dari Bupati Jember Muhammad Fawait saat mengunjungi SMP Negeri 1 Pakusari dalam rangkaian Program Bunga Desaku, Senin (20/7/2026). Di hadapan ratusan siswa SMP se-Kecamatan Pakusari, Gus Fawait mengajak para pelajar berani bermimpi besar, disiplin, dan menjadi generasi yang peduli terhadap lingkungan.

Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran untuk mengelola sampah harus dibangun sejak dini, dan sekolah menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan budaya tersebut.

Bagi para siswa, program “Komposku” bukan sekadar kegiatan belajar di luar kelas. Mereka mendapat pengalaman langsung mengubah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai jual sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Salah seorang siswi, Zahratus Zannah, mengaku bangga bisa terlibat dalam program tersebut. Ia mengatakan kegiatan itu mengubah cara pandangnya terhadap sampah yang selama ini dianggap tidak berguna.

Langkah SMP Negeri 1 Pakusari dinilai sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember yang mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya. Sementara itu, Pemkab Jember juga masih menunggu realisasi bantuan alat pengolah sampah menjadi energi dari pemerintah pusat yang direncanakan dibangun di TPA Pakusari pada akhir 2026.

Kisah SMP Negeri 1 Pakusari menjadi bukti bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari proyek berskala besar. Dari halaman sekolah, kebiasaan sederhana mengolah sampah perlahan tumbuh menjadi budaya yang diharapkan mampu menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.

Written by:

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *