Ada pemandangan yang berbeda di Pantai Watu Ulo, Desa Sumberejo, pada hari Sabtu (28/3/2026) kemarin. Bukan suara mesin kendaraan yang mendominasi, melainkan denting lonceng sapi dan derit roda kayu di atas pasir pantai.
Ya, puluhan Pegon atau kereta sapi tradisional tampak berjejer gagah, memenuhi kawasan wisata dalam rangka perayaan Lebaran Ketupat. Di tengah kepungan teknologi yang terus berkembang, masyarakat Ambulu seolah ingin berteriak: “Adat kami takkan mati!”
Bagi kawan-kawan yang belum tahu, Pegon sebenarnya adalah “partner kerja” sehari-hari petani untuk mengangkut pupuk atau hasil panen. Namun, khusus di tanggal 7 Syawal, Pegon-pegon ini “naik kelas”. Mereka bersolek cantik, dihias meriah, dan digunakan untuk memboyong seluruh anggota keluarga berwisata ke pantai.
”Ini adalah identitas kami. Tradisi tahunan ini bukan sekadar tontonan, tapi kebanggaan kolektif warga Ambulu dan Sumberejo,” ungkap Plt. Camat Ambulu, Fahrul Asrori.
Menariknya, ada ambisi besar di balik kemeriahan ini. Pihak paguyuban pemilik Pegon bersama Pemkab Jember tengah berjuang mendaftarkan tradisi ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Kebudayaan. Tujuannya jelas, agar nilai sejarahnya tetap paten dan terlindungi dari gerusan zaman.
Tahun ini, suasana terasa jauh lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya. Rupanya, kebijakan baru dari Bupati Jember, Gus Fawait, menjadi pemicunya. Sekarang, pengunjung cukup membayar Rp 12.500, sudah dapat mengakses ke dua pantai sekaligus Watu Ulo dan Papuma.
Meski area pantai dipadati lautan manusia dan pegon, situasi terpantau tetap kondusif. Pengawasan ketat dari pihak Muspika dan panitia membuat pengunjung tetap merasa aman saat menikmati momen langka ini.
Perayaan tahun ini seolah membuktikan: secanggih apa pun teknologi masa depan, derap langkah sapi dan putaran roda kayu Pegon akan selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat Jember.
